• Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
  • Pemkab Maluku Tenggara - Administration
Home Pariwisata Satu Malam Berburu Su/Laor-Cacing Berwarna di Kepulauan Kei

Satu Malam Berburu Su/Laor-Cacing Berwarna di Kepulauan Kei

E-mail Print PDF

Langgur.., Begitu besar Anugerah Tuhan di Kepualauan Kei, karena selain memiliki berbagai potensi alam dan budaya yang kaya memberikan sebuah khasana untuk membangun Pariwisata Maluku Tenggara.

Tradisi timba LAOR atau cacing laut (Lycde Oele) yang telah dilakukan secarah turun temurun. Biota laut yang memiliki kadar protein yang tinggi ini hanya ada setahun sekali biasanya pada bulan Maret atau April di pantai yang berkarang. Tradisi timba LAOR ini bisa dikemas secara porporsional oleh pemerintah Daerah untuk menjadi icon wisata di pulau Kei, melestarikan tradisi yang telah diwariskan sampai saat ini dan sekiranya bisa menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara, guna pengembangan parawisata di pulau Kei sendiri.

Salah satunya yang dinanti-nantikan masyarakat yang ada di Kepulauan Kei setiap bulan Maret tahun berjalan ada satu hari khusus masyarakat melakukan budaya timba cacing laut dalam bahasa lokal (LAUR) seperti yang dilakukan masyarakat Desa Elat Kecamatan Kei Besar Kabupaten Maluku Tenggara, Jumat (22/3) Malam.

Bapak MT. Ali Serang warga Desa Depur-Elat, menjelaskan bahwa masyarakat Evav/Kei melakukan timba laur ini hanya satu kali/satu malam dalam setahun tepat bulan terang di pukul 08,00 WIT atau menurut masyarakat setempat saat sinar bulan Jatuh di Bulan Maret. Menurutnya Pesisir Laut Kepulauan Kei biasanya dipenuhi lampu lentera dan sejenis untuk mencari laur/cacing laut ini yang keluar dari celah batu karang. Adapun cara mendapatkan Laur ini dengan menimba menggunakan alat tangkap tradisional yang sudah disiapkan sejak bulan Februari dan Maret untuk menantikan datangnya Laur, Jelasnya”.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, malam dan api

Hal senada dikatakan Dean Tapotubun warga Desa Ohoiel Kei Besar mengatakan Cacing Laut ini ketika didapat olahan menjadi “Bakasan, Goreng dan Asaran”, untuk Bakasan prosesnya harus dihaluskan melalui dijemur kurang lebih satu bulan agar hasilnya halus dan dapat bertahan sampai satu tahun. Ditambahkan Dean, Tradisi Timba Laur/Cacing selain dikenal sejak ratusan tahun silam, Laur ini seperti cacing warnanya ada yang kuning, merah, coklat, biru dan lain-lain (Lycde Oele) manakalah banyak legenda tentang Laur ini karena selain di Kepualauan Kei, Wilayah Maluku semua dapat mengkonsumsi biota laut yang satu ini dan mereka juga melakukan tradisi yang sama. Tradisi ini apabila dikemas dapat menarik wisatawan ke Negeri Maluku Tenggara apalagi dikemas dalam sebuah Festival Timba Laur.

Last Updated on Tuesday, 26 March 2019 13:43  

Hukum

JW Media Player

You must have Flash Player installed in order to see this player.

Simple Video Flash Player Module



Get the Flash Player to see this player.



Polls

Penilaian anda untuk web ini?
 

CALENDAR

Photo Gallery

Slideshow Image 1
Slideshow Image 2
Slideshow Image 3
Slideshow Image 4
Slideshow Image 5
Slideshow Image 6
Slideshow Image 7
Slideshow Image 8
Slideshow Image 9
Slideshow Image 10

Who's Online

We have 142 guests online